MODEL - MODEL DAN PENDEKATAN SUPERVISI PENDIDIKAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata
Kuliah
“Supervisi Pendidikan Islam”
Dosen Pengampu: Habibie Yusuf, S.Pd.,M.Pd.I.
Yogi Eko Prasetyanto
(1721143423)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI - 5 F)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
TULUNGAGUNG
DESEMBER 2016
MODEL - MODEL DAN PENDEKATAN SUPERVISI
PENDIDIKAN
A. Pengembangan
Model Supervisi
Yang dimaksud dengan model dalam uraian ini
ialah suatu pola, contoh, acuan dari supervisi yang diterapkan. Ada berbagai
model yang berkembang. Antara lain : [1]
- Model Supervisi yang Konvensional (Tradisional)
Model ini tidak lain dari refleksi dari kondisi
masyarakat pada suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan
feodal, akan berpengaruh pada sikap pemimpin yang otokrat dan korektif. Pemimpin cenderung untuk mencari-cari kesalahan.
Perilaku supervisi ialah mengadakan inspeksi
untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan. Kadang-kadang bersifat memata-matai. Perilaku seperti ini disebut snooper
vision (memata-matai). Sering disebut supervisi
yang korektif. Memang sangat mudah untuk mengoreksi kesalahan orang lain,
tetapi lebih sulit lagi “untuk melihat
segi-segi positif dalam hubungan dengan hal-hal yang baik”. Pekerjaan seorang supervisor yang bermaksud hanya untuk
mencari kesalahan adalah suatu permulaan yang
tidak berhasil.Mencari-cari kesalahan dalam membimbing sangat bertentangan
dengan prinsip dan tujuan supervisi pendidikan.
Akibatnya yang disupervisi merasa tidak puas dan
ada dua sikap yang tampak dalam kinerja guru, yaitu: Acuh tak acuh (masa
bodoh), dan Menantang (agresif).
Praktek mencari-cari kesalahan dan menekan bawahan ini
masih tampak sampai
saat ini. Para pengawas datang ke sekolah dan menanyakan mana satuan pelajaran. Ini salah dan seharusnya begini. Praktek-praktek
supervisi seperti ini adalah cara memberi
supervisi yang konvensional. Ini bukan berarti bahwa tidak boleh menunjukkan
kesalahan. Masalahnya ialah bagaimana cara kita
mengkomunikasikan apa yang dimaksudkan sehingga
yang disupervisi menyadari bahwa dia
harus memperbaiki kesalahan. Yang disupervisi akan
dengan senang hati melihat dan menerima bahwa ada yang harus diperbaiki.
Caranya harus secara taktis pedagogis atau
dengan perkataan lain, memakai bahasa penerimaan bukan bahasa penolakan.
- Model Supervisi yang Bersifat Ilmiah
Supervisi yang bersifat ilmiah
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:[2]
(1) Dilaksanakan secara
berencana dan kontinu,
(2) Sistematis dan menggunakan
prosedur serta teknik
tertentu,
(3) Menggunakan instrumen
pengumpulan data,
(4) Ada data yang objektif yang diperoleh dari keadaan yang riil.
Dengan menggunakan merit rating, skala
penilaian atau checklist
lalu para siswa atau mahasiswa menilai proses kegiatan belajar-mengajar
guru/dosen di kelas. Hasil penilaian
diberikan kepada guru-guru sebagai balikan terhadap penampilan mengajar guru
pada semester yang lalu. Data ini
berbicara kepada guru dan guru kemudian mengadakan perbaikan. Penggunaan
alat perekam data ini berhubungan erat dengan penilaian. Walaupun demikian, hasil perekam data secara ilmiah
belum merupakan jaminan untuk melaksanakan supervisi yang lebih manusiawi.
- Model Supervisi Klinis
Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang
difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik,
dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat
tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan
dengan cara yang rasional. Supervisi klinis adalah proses membantu dosen memperkecil
kesenjangan antara tingkah laku rnengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar
yang ideal.
# Mengapa Perlu dikembangkan
Supervisi Klinis di Lingkungan Guru-guru?
Ada berbagai faktor yang mendorong dikembangkannya
supervisi klinis bagi guru-guru:[3]
a. Dalam kenyataan yang dikerjakan
supervisi ialah mengadakan evaluasi guru-guru semata. Diakhir satu semester
guru-guru mengisi skala penilaian yang diisi peserta didik mengenai cara
mengajar guru. Hasil penilaian diberikan kepada guru-guru, tapi tidak
dianalisis mengapa sampai guru-guru dalam mengajar hanya mencapai tingkat
penampilan seperti itu. Cara ini menyebabkan ketidakpuasan guru secara
tersembunyi
b. Pusat pelaksanaan supervisi
adalah supervisi, bukan berpusat pada apa yang dibutuhkan gutu, baik kebutuhan
profesional sehingga guru-guru tidak merasa memperoleh sesuatu yang berguna
bagi pertumbuhan profesinya.
c. Dengan menggunakan merit
rating (alat penilaian kemampuan guru), maka aspek-aspek yang diukur
terlalu umum. Sukar sekali untuk mendeskripsikan tingkah laku guru yang paling
mendasar seperti yang meraka rasakan, karena diagnosisnya tidak mendalam, tapi
sangat bersifat umum dan abstrak.
d. Umpan balik yang diperoleh dari
hasil pendekatan. Sifatmya memberi arahan, petunjuk, instruksi, tidak menyentuh
masalah manusia yang terdalam yang dirasakan guru-guru, sehingga hanya bersifat
dipermukaan.
e. Tidak diciptakan hubungan
identifikasi dan analisis diri, sehingga guru-guru melihat konsep dirinya.
Seperti yang dikemukakan P. Winggens bahwa dalam diri seseorang ada 3 konsep
diri, yaitu :
1) Saya dengan self concept
saya sendiri.
2) Saya dengan self idea saya
sendiri.
3) Saya dengan self reality saya sendiri. Supervisi
selama dalam membentuk konsep diri guru sehingga menemukan dirinya sendiri dan
menjadi diri sendiri.
f. Melalui diagnosis dan analisis dirinya
sendiri, guru menemukan dirinya. Ia akan sadar kemampuan dirinya dengan
menerima dirinya dan timbul motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk
memperbaiki dirinya sendiri. Praktek-praktek supervisi yang tidak manusiawi itu
menyebabkan kegagalan dalam pemberian supervisi klinis.
- Model Supervisi Artistik[4]
Mengajar adalah suatu pengetahuan (knowledge),
mengajar itu suatu keterampilan (skill), tapi mengajar juga suatu kiat
(art). Sejalan dengan tugas mengajar, supervisi juga merupakan kegiatan
mendidik sehingga dapat dikatakan bahwa supervisi adalah suatu pengetahuan,
suatu keterampilan dan juga suatu kiat.
Supervisi itu menyangkut bekerja untuk orang lain (working
for the others), bekerja dengan orang lain (working with the
others), bekerja melalui orang lain (working through the others).
Dalam hubungan bekerja dengan orang lain maka suatu rantai hubungan
kemanusiaan adalah unsur utama. Hubungan antar manusia dapat tercipta bila ada
kerelaan untuk menerima orang lain sebagaimana adanya. Hubungan itu dapat
tercipta bila ada unsur kepercayaan. Saling percaya, saling mengerti,saling menghormati, saling
mengakui, saling menerima seseorang sebagaimana adanya.
B. Pendekatan
Supervisi Pendidikan
- Pendekatan Langsung (direktif)
Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap
masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung.
Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan. Pendekatan
direktif ini berdasarkan pada pemahaman terhadap psikologis behaviorisme.
Prinsip behaviourisme ialah bahwa segala perbuatan yang berasal dari refleks, yaitu respons
terhadap rangsangan/ stimulus. Oleh karena guru memiliki kekurangan, maka perlu
diberikan rangsangan agar ia bisa bereaksi.
Supervisor dapat menggunakan penguatan
(reinforcement) atau hukuman (punishment). Pendekatan seperti ini dapat
dilakukan dengan perilaku supervisor seperti berikut ini :
1) Menjelaskan,
2) Menyajikan,
3) Mengarahkan,
4) Memberi contoh,
5) Menerapkan tolok ukur, dan
6) Menguatkan.[5]
- Pendekatan Tidak Langsung (Non-Direktif)
Yang dimaksud dengan pendekatan tidak langsung
(non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang
sifatnya tidak langsung.Perilaku supervisor tidak secara langsung menunjukkan
permasalahan, tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan
oleh guru-guru. Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin kepada yang disupervisi
untuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Pendekatan non-direktif
ini berdasarkan pada pemahaman psikologis humanistik. Psikologi
humanistik sangat menghargai orang yang akan dibantu. Oleh karena
pribadi guru yang dibina begitu dihormati, maka ia lebih banyak mendengarkan
permasalahan yang dihadapi oleh guru-guru. Guru mengemukakan masalahnya,
supervisor mencoba mendengarkan, memahami apa yang dialami guru-guru.
- Pendekatan Kolaboratif
Yang dimaksud dengan pendekatan kolaboratif adalah
cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non-direktif
menjadi pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru
bersama-sama, bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam
melakasanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Pendekatan
ini didasarkan pada psikologi kognitif. Psikologi kognitif beranggapan bahwa
belajar adalah hasil paduan antara kegiatan individu dengan lingkungan pada
gilirannya nanti berpengaruh dalam pembentukan aktifits individu. Dengan
demikian pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah. Dari atas ke
bawah ke atas. Perilaku supervisor adalah sebagai berikut:
a. Menyajikan
b. Menjelaskan
c. Mendengarkan
d. Memecahkan masalah
e. Negoisasi[6]
PENUTUP
Demikian sedikit materi yang
saya ketik dan saya bagikan di blog saya ini, semoga yang bermanfaat bagi diri
saya sendiri maupun orang lain. Sumber yang saya ambil ini dari materi-materi
yang telah diajarkan oleh bapak Habibie Yusuf, S.Pd.,M.Pd.I., selaku
Dosen mata kuliah “Supervisi Pendidikan Islam” saya selama perkuliahan
Semester 5. Sumber lainnya yang saya ambil dan saya ketik adalah dari buku yang
berjudul “Supervisi Pendidikan” oleh Ibu Luk-Luk Nur Mufidah, M.Pd.I,
beliau juga Dosen di kampus saya yakni kampus IAIN Tulungagung.
“Sekian dari blog saya, Mohon
Maaf apabila ada kata yang kurang berkenan dihati para pembaca dan terima
kasih”
SEMOGA BERKAH DAN BERMANFAAT
Sumber/Referensi :
Nur Mufidah, Luk-Luk, Supervisi Pendidikan,
Yogyakarta: Teras , 2009.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar