Minggu, 11 Desember 2016

Bai’at Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naq Syabandiyyah



“Bai’at Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naq Syabandiyyah”

  


Dilaksanakan  pada :

Hari / Tanggal                    : Minggu / 1 Januari 2017

Tempat                                : di Pondok Pesantren Miftahul Huda / PonPes Gading Malang

Al - Mursyid                       : Romo KH. Abdurrahman Yahya

Waktu Pembekalan           : Ba’da Maghrib/Malam Sabtu, 30 Desember 2016 (di Madrasah Diniyah Salafiyah “Dalailul Khoirot”  Bago, Tulungagung )

Waktu Pemberangkatan   : Malam Minggu, 31 Desember 2016 ( di Madrasah Diniyah Salafiyah “Dalailul Khoirot”  Bago, Tulungagung )

Waktu Pendaftaran           : 8 Desember 2016 s/d 29 Desember 2016, bagi yang ingin mendaftar silahkan langsung konfirmasi atau menghubungi nomor di bawah ini…


 _____________________________________

Contact Person :  Yogik      (085790870556)
                              Usman    (085755461591)
 
 _____________________________________






Muqoddimah
Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji milik Allah yang telah memberikan pertolongan menuju kemuliaan, pujian yang selaras dengan kebaikannya yang Maha Sempurna. Kemudian sholawat dan salam semoga terlimpahkan atas Nabi Agung Muhammad SAW yang terpilih, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya.
Kepada kaum muslimin dan muslimah yang saya muliakan, di zaman akhir ini, orang yang hendak suluk di jalan Allah, hendaknya mengayunkan kakinya dengan hati-hati. Karena diantara thoriqoh-thoriqoh, alirran-aliran dan berbagai macam paham yang ada, banyak  sekali yang menyimpang dari wejangan para masyayikh thoriqoh itu sendiri.
Sudah sangat jelas dawuh para ulama’ salaf, sebagaimana termaktub di dalam kitab-kitab tasawuf :
“bahwa Thoriqoh para wali itu terikat oleh ketentuan al kitab (al-Qur’an dan as-Sunnah).”
Namun kenapa sebagian salikin ada yang masih tergoda untuk mengikuti aliran-aliran yang menyimpang dari syari’at? Sangat mustahil, apabila mengarungi samudera thoriqoh tidak dengan meneti bahtera syari’at? Dan bagaimana mungkin para pencari mutiara hakekat akan meninggalkan perahu syariatnya di tengah-tengah gelombang yang mengganas? Niscaya ia akan tenggelam ditelan ombak dan tidak pernah bisa kembali ke pulau keabadiaan.
Maka dari itulah para mursyid/guru thoriqoh dari jami’iyyah ahli thoriqoh mu’tabaroh (silsilahnya sampai pada Nabi Muhammad SAW) memberikan kemudahan bagi kita umat Islam yakni : walau kita belum sempurna syariatnya/ilmu ibadah lahir, juga boleh ikut thoriqoh, syaratnya apabila kita sudah bai’at/janji mengamalkan dzikir pada mursyid dari jami’iyyah ahli thoriqoh mu’tabaroh, kita harus belajar ilmu syari’at dengan sungguh-sungguh.

(Penulis)






           
Fatwa Menteri Agama
Ing ngandap meniko nerangaken amanah-amanahipun menteri agami wonten ing muktamar ingkang kaping sepindah. Poro ulama ahli thoriqoh al-mu’tabaroh wonten ing Magelang. Panjenenganipun ngendiko utawi nganjuraken kirang langkung mekaten :
Ulama ahli thoriqoh meniko tiyan engkang masih bersih pramilo menteri nggadahi pengajeng ajeng supados kawontenanipun negari kito engkang masyarakatipun sampun katah ingkang kalebetan penyakit risaking budi pekerti meniko kersoho ulama ahli thoiqoh tumut mikiraken sinaoso namung kelawan dongo. Mugi-mugi kerisaken batin meniko enggal ical sangking bumi kito Indonesia.
  • Para maos, milane para ulama’ meniko andamel ikatan jami’iyyah Ahli Thoriqoh al-muktabaroh, kraten jasa-jasanipun ulama ahli Thoriqoh meniko agung sanget wonten ing tengah-tengahipun masyarakat. Pancen sejatosipun ulama ahli Thoriqoh meniko soal kerohanianipun langkung ageng soho kiyat kangge bentengipun negeri kito. Kranten sinaoso kados pundi kemawon kemajuanipun perjuangan batin kito piyambak-piyambak, ngelawan pikajenganipun hawa nafsu soho syetan-syetan mboten badhe saget hasil perjuangan dhohir kito. Sak umpami hasil jihat dhohiripun, ananging hakikatipun mboten pikantuk ridhonipun Allah, yakni wonten akhirot kito takseh bakal pikantuk pasiksan, ing mongko tumrap kito tiyang Islam meniko ingkang perlu pados ridhonipun gusti Allah donyo akhirat.
  • Para maos, pancen lumrahipun tiyang meniko menawi sampun bai’at thoriqoh muktabaroh, katah-katahipun akhlak meniko maleh sae tambah khudu’ soho tawadhu’ipun dhateng Allah soho dateng para sesepuh soho dhateng para pemimpin-pemimpin Islam soho ical takaburipun, tansah welah asih dhateng sesami soho maleh tunduk dhateng poro masyayikh/guru-guru meniko 100 persen. Sehinggo, murid-murid sangking jami’iyyah ahli thoriqoh muktabaroh kalawau dados keluarga negari ingkang tekun mituhu tunduk dhateng pemerintah saklintunipun perintah maksiyat.



 

1.      Ilmu Thoriqoh (Ilmu Tasawuf)
  • Adalah ilmu yang digunakan untuk mengetahui tingkah laku nafsu dan sifat-sifatnya hati, yang mana yang tercela menurut syara’ lalu dijauhi dan mana yang terpuji menurut syara’ lalu dilaksanakan.
2.      Tujuan Melaksanakan Ilmu Thoriqoh
  • Yaitu : mendekatkan dan mencari ridho Allah SWT.
3.      Buah/hasil melaksanakan Ilmu Thoriqoh (dari kitab al-futuhaturrobaniyah shohifah 5)
Yakni :
  1. Bisa sampai pada meniadakan hati dari sifat-sifat selain Allah.
  2. Menghiasi hati dengan dzikir / ingat kepada Allah.
  3. Menghiasi hati dengan muqorrobah / dekat kepada Allah.
  4. Menghiasi hati dengan mahhabah / cinta kepada Allah.
  5. Menghiasi hati dengan musyahadah / menyaksikan Allah.
4.      Hukumnya orang yang tidak mau minta bai’at / janji Thoriqoh pada Guru Mursyid:
  • Menurut keputusan muktamar jami’iyyah Thoriqoh Mu’tabaroh di Tegal Rejo Magelang. Hukumnya Haram bila orang tersebut tidak bisa membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela.
  • Menurut syara’ seperti menuruti ajakan syaitan atau kehendak hawa nafsu.
5.      Hukumnya Belajar Ilmu Thoriqoh
  • Jika belajarnya Ilmu Thoriqoh karena perlu untuk membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela, menurut syara’ => maka hukumnya fardhu ‘ain/wajib, bagi tiap-tiap orang mukallaf.
6.      Hukumannya Bai’at/janji Murid/salik pada Guru Mursyid
  • Hukum Bai’at Murid pada guru mursyid adalah sunnah Nabawiyyah/sunnah kenabian.
7.      Hukumnya melaksanakan dzikir Thoriqoh setelah dibai’at Guru Mursyid
  • Hukumnya melaksanakan dzikir Thoriqoh setelah bai’at adalah Wajib.
8.      Hubungan Syari’at Dengan Hakikat
  • Dalam kitab salalimul fudhola’ ‘ala thoriqi auliya’ dijelaskan bahwa :
“Barang siapa mengetahui/’alim syari’at dan tidak mengerti hakikat maka dia telah menjadi fasiq dan barang siapa yang ‘alim hakikat dan tidak mengerti syari’at maka dia telah menjadi kafir zindiz”
  • Al-‘arif billaah Syech KH.Muhammad Yahya mengatakan :
“Sealim apapun seseorang bila belum ikut Thoriqoh nilainya separuh.”

9.      Catatan Penting
  • Thoriqoh yang tergabung dalam jami’iyyah ahli Thoriqoh Mu’tabaroh An Nahdliyah. Terdapat 45 Thoriqoh Mu’tabaroh An Nahdliyah :

  1. Rumiyah
  2. Rifa’iyah
  3. Sa’diyyah
  4. Bakriyyah
  5. Justiyyah
  6. Umariyyah
  7. Alawaiyyah
  8. Abbasiyyah
  9. Zainiyyah
  10. Dasuqiyyah
  11. Akbariyyah
  12. Bayumiyyah
  13. Malamiyyah
  14. Ghoibiyyah
  15. Tijaniyyah
  16. Uwaisiyyah
  17. Idrissiyah
  18. Samaniyyah
  19. Buhuriyyah
  20. Usyaqiyyah
  21. Kubrowiyyah
  22. Maulawiyyah
  23. Jalawiyyah
  24. Baeruniyyah
  25. Ghazaliyyah
  26. Hamzawiyyah
  27. Haddadiyyah
  28. Matlubiyyah
  29. Sumbuliyyah
  30. Idrusiyyah
  31. Utsmaniyyah
  32. Syadziliyyah (di Tulungagung banyak pengikutnya)
  33. Sya’baniyyah
  34. Kalsyaniyyah
  35. Khalidiyyah (di Tulungagung banyak pengikutnya )
  36. Syathoriyyah
  37. Khalwatiyyah
  38. Bakdasyiyyah
  39. Suhrowardiyyah
  40. Ahmadiyyah, dari Syeh Ahmad Badawi
  41. Isawiyyah
  42. Ghorbiyyah
  43. Turuqi Akabiril Auliya
  44. Qodiriyyah wa naq Sabandiyyah (di Tulungagung banyak pengikutnya)
  45. Mulazamatil Qur’an was Sunnah wa dalailil Khoiroti wa ta’alimi fathil qoribi au kifayatil awami

10.  Dasar Hukum Thoriqoh
a.      Firman Allah dalam al-Qur’anul Karim Surat Al-Jin ayat 16 berkenaan dengan Thoriqoh.
Artinya : “Dan bahwa jika mereka tetap (istiqomah) menempuh jalan itu (thoriqoh), sesungguhnya akan kami berikan rizki/rahmat yang berlimpah-limpah.”
b.      Pertanyaan Ali bin Abi Tholib kepada Rosululloh SAW :
Artinya : “Ali bin Abi Tholib berkata : saya bertanya : wahai Rosululloh, manakah thoriqoh yang sedekat-dekatnya mencapai Tuhan ? Rosululloh SAW bersabda : “(Tidak lain) adalah dzikir kepada Allah.”

11.  Untuk menggambarkan hakekat kehidupan, menata hati dan sikap kepada ulama’, maka Al-‘Arif billaah Syeh KH. Muhammad Yahya Gading Pesantren Malang, menggubah sebuah syair berikut ini :
Artinya :
                    “Hendaklah semua orang Islam takut (taqwa kepada Allah SWT). Jangan sekali-kali berani menentang kepada ulama’ terdahulu. Ingatlah siska neraka, jangan memburu tahta/jabatan dan dunia. Sesungguhnya ulama’ mengajak sekalian manusia, agar di dunia selamat dan di akhirat masuk surga. Siksa neraka sangatlah panas yaitu siksa bagi mereka sendiri.
               Orang yang lari dari ulama’ berarti melawan hukum syara’. Sungguh beruntung orang yang selalu mengikuti arahan ulama’ di jaman akhir ini untuk memerangi syetan, menguatkan iman dan ketika maut menjelang dalam keadaan mengingat Allah. Hatinya tiada henti mengucap lafadz Allah, karena selalu mengingat Allah. Syetan menjadi kalah, karena ingat kepada Allah. Itulah yang disebut Khusnul Khotimah. Karena itu, guru Mursyid janganlah diingkari. Karena gurumu itulah yang mengajarimu berdzikir. Bila saat ruh dicabut, dzikir hilang melayang, maka syetan akan datang dan iman pun melayang. Na’udzubillahi min dzalik.
       (Keterangan-keterangan di atas dari kitab Miftahul Jannah)

12.  Rintangan-Rintangan/ Hambatan-Hambatan Bagi Orang Yang Akan Berthoriqoh
  1. Beranggapan usianya masih muda (menunggu usia tua untuk berthoriqoh)
Pendapat di atas tidak beralasan. Menurut Al-‘Arif Billaah Syeh KH. Muhammad Yahya:
“Setiap orang (tua-muda) membutuhkan tasawuf. Yang tergolong tua adalah ilmu tasawufnya, bukan pengamalnya.”
  1. Masih repot/sibuk dan tidak ada waktu untuk berthoriqoh
Pendapat ini juga tidak beralasan karena di antara thoriqoh mu’tabaroh ada yang amalannya mudah dan lentur seperti : thoriqoh qodiriyyah, syadziliyyah. Dan tidak mengharuskan suluk di pondok 40 hari. Bahkan ada yang 1 hari pulang, ada yang 3 hari, dst.


klik untuk mendownload File Bai'at Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naq Syabandiyyah