BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sejak
Islam masuk ke India pada masa Khalifah al-Walid dari Dinasti Bani Umayyah
melalui ekspedisi yang dipimpin oleh panglima Muhammad Ibn Qasim.[1]
Peradaban Islam mulai tumbuh dan menyebar di anak benua India. Kedudukan Islam
di wilayah ini dan berhasil menaklukkan seluruh kekuasaan Hindu dan serta
mengislamkan sebagian masyarakatnya.[2] India pada tahun 1020 M. Setelah Gaznawi hancur
muncullah beberapa dinasti kecil yang menguasai negeri India ini, seperti
Dinasti Mamluk, Khalji, Tuglug, dan yang terakhir Dinasti Lodi yang
didirikan Bahlul Khan Lody. Hadirnya Kerajaan Mughal
membentuk sebuah peradaban baru di daerah tersebut dimana pada saat itu
mengalami kemunduran dan keterbelakangan. Kerajaan Mughal yang bercorak Islam mampu
membangkitkan semangat ummat Islam di India.
Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaan
Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di India. Jika pada dinasti-dinasti
sebelumnya Islam belum menemukan kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar
dan berjaya. Keberadaan kerajaan ini dalam periodisasi sejarah Islam dikenal
sebagai masa kejayaan kedua setelah sebelumnya mengalami kecemerlangan pada
dinasti Abbasiyah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Asal Mula Kerajaan Mughal ?
2.
Bagaimana Perkembangan dan Kejayaan Kerajaan Mughal ?
3.
Bagaimana Hasil Kebudayaan Kerajaan Mughal ?
4.
Bagaimana Kemunduran dan Runtuhnya Kerajaan Mughal ?
C.
Tujuan Pembahasan Masalah
1.
Untuk mengetahui Asal Mula Kerajaan Mughal.
2.
Untuk mengetahui Perkembangan dan Kejayaan Kerajaan Mughal.
3.
Untuk mengetahui Hasil Kebudayaan Kerajaan Mughal.
4.
Untuk mengetahui Kemunduran dan Runtuhnya Kerajaan Mughal.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Asal Usul
Kerajaan Mughal
Kerajaan Mughal merupakan kelanjutan
dari kesultanan Delhi sebab ia menandai puncak perjuangan panjang
untuk membentuk sebuah imperium India muslim yang didasarkan pada sebuah
sintesa antara warisan bangsa Persia dan bangsa India. Kerajaan Mughal bukanlah
kerajaan Islam pertama di India. Jika pada dinasti-dinasti sebelumnya Islam
belum menemukan kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar dan berjaya.
Keberadaan kerajaan ini dalam periodisasi sejarah Islam dikenal sebagai masa
kejayaan kedua setelah sebelumnya mengalami kecemerlangan pada Dinasti
Abbasiyah.[3]
Kerajaan Mogul (Mughal-pen) ini
didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530M)[4],salah satu dari cucu Timor Lenk.
Ayahnya Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari
orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekat akan
menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu.
Pada mulanya, ia mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat bantuan dari Raja
Safawi, Ismail I akhirnya berhasil menaklukkan Samarkand pada tahun 1494 M.
Pada tahun 1504 M, ia menduduki
Kabul, ibu kota Afganistan. Setelah Kabul dapat ditaklukkan, Babur meneruskan
ekspansinya ke India. Kala itu Ibrahim Lodi, penguasa India, dilanda krisis,
sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim
Lodi, bersama-sama Daulat Khan, Gubernur Lahore, mengirim utusan ke Kabul,
meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim Lody di Delhi.
Permohonan itu langung diterimanya. Pada tahun 1525 M, Babur
berhasil menguasai Punjab dengan ibu kota Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya
menuju Delhi. Pada 21 April 1526 M, terjadilah pertempuran yang dahsyat di
Panipat. Ibrahim Lody beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu.
Babur memaski kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di
sana. Dengan demikian berdirilah Kerajaan Mughal di India.
Dari pendapat di atas, sesuatu yang
dapat disepakati bahwa Kerajaan Mughal merupakan warisan kebesaran Timur Lenk,
dan bukan warisan keturunan India yang asli. Meskipun demikian, Dinasti Mughal
telah memberi warna tersendiri bagi peradaban orang-orang India yang sebelumnya
identik dengan agama Hindu.
Babur bukanlah orang India. Syed
Mahmudunnasir menulis, “Dia bukan orang Mughal. Dia menyebut
dirinya orang Turki Akan tetapi, cukup aneh, dinasti yang didirikannya dikenal
sebagai dinasti Mughal. Sebenarnya Mughal menjadi sebutan umum bagi para
petualang yang suka perang dari Persia di Asia Tengah, dan meskipun Timur
(Timur Lenk) dan semua pengikutnya menyumpahi nama itu sebagai nama musuhnya
yang paling sengit, nasib merekalah untuk dicap dengan nama itu, dan sekarang
tampaknya terlambat untuk memperbaiki kesalahan itu.”
Dari
pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor berdirinya Kerajaan Mughal
adalah:
1. Ambisi dan karakter Babur sebagai
pewaris keperkasaan ras Mongolia
2. Sebagai jawaban atas krisis yang
tengah melanda India.
Dalam
berdirinya kerajaan Mughal di India ini mengalami pertentangan terutama dari
kalangan Hindu yang tidak menyetujui berdirinya kerajaan Mughal dan segera
menyusun kekuatan gabungan untuk menghancurkan kerajaan Mughal.
Namun
Babur berhasil mengalahkan mereka dalam suatu pertempuran. Sementara itu
dinasti Lodi berusaha bangkit kembali menentang pemerintahan Babur dengan
pimpinan Muhammad Lodi. Pada pertempuran di dekat Gogra, Babur dapat menumpas
kekuatan Lodi pada tahun 1529. Setelah
pertempuran itu setahun kemudian Babur meninggal dunia.
Sepeninggalan
Babur, tahta kerajaan Mughal diteruskan oleh Humayun yang ternyata tetap saja
menghadapi banyak tantangan. Ia berhasil mengalahkan pemberontakan Bahadur
Syah, penguasa Gujarat yang bermaksud melepaskan diri dari Delhi. Tahun 1450
Humayun mengalami kekalahan dalam peperangan yang dilancarkan oleh Sher Khan
dari Afganistan. Ia melarikan diri ke Persia dan menyusun kekuatan di tempat
perasingannya. Ketika itu Persia dipimpin oleh penguasa Safawiyyah yang bernama
Tahmasp.
Setelah
15 tahun menyusun kekuatan dalam pengasingan di Persia, Humayun berhasil
menegakkan kembali kekuasaan Mughal di Delhi pada tahun 1555. Ia mengalahkan
kekuasaan Khan Syah dan setahun kemudian ia meninggal dunia.
Sepeninggal
Humayun, kerajaan Mughal dipimpin oleh anaknya yang berusia 14 tahun yakni Abu
al-Fath Jalal al-Din Muhammad Akbar yang lebih dikenal dengan sebutan Akbar,
dan dilahirkan di Amarkot, 15 Oktober 1542 M, memerintah pada tahun 1556 –
1605 M. Pada masa pemerintahan Akbar
inilah kerajaan Mughal mengalami puncak kejayaannya baik di bidang politik,
ekonomi, militer, dll. Kemajuan yang telah dicapai Akbar masih dapat dipertahankan
oleh tiga sultan berikutnya, yaitu Jehangir (1605-1628M), Syah Jehan (1628-1658
M), dan Aurangzeb (1658-1707 M).
Namun,
setelah masa pemerintahan ketiga sultan tersebut masa kejayaan kerajaan Mughal
tidak dapat diteruskan. Adapun rincian Raja – Raja yang pernah memerintah di
Kerajaan Mughal adalah :
1.
1526-1530 M
dipimpin oleh Zahiruddin Muhammad Babur
2.
1530-1556 M
dipimpin oleh Humayun
3.
1556-1605 M
dipimpin oleh Akbar Syah I
4.
1605-1627 M
dipimpin oleh Jahangir
5.
1627-1658 M
dipimpin oleh Syah Jehan
6.
1658-1707 M
dipimpin oleh Aurangzeb (Alamgir I)
7.
1707-1712 M
dipimpin oleh Bahadur Syah I
8.
1712-1713 M
dipimpin oleh Jihandar Syah
9.
1713-1719 M
dipimpin oleh Farrukh Siyar
10.
1719-1748 M
dipimpin oleh Muhammad Syah
11.
1748-1754 M
dipimpin oleh Ahmad
12.
1754-1759 M
dipimpin oleh Alamgir II
13.
1759-1806 M
dipimpin oleh Alam II
14.
1806-1837 M
dipimpin oleh Akbar II
15.
1837-1858 M
dipimpin oleh Bahadur Syah II
B.
Perkembangan dan Kejayaan Kerajaan
Mughal
Masa
kejayaan kerajaan Mughal dimulai pada pemerintahan Akbar (1556-1506 M), dan
tiga raja penggantinya, yaitu Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M),
Aurangzeb (1658-1707 M). Setelah itu, kemajuaan kerajaan Mughal tidak dapat
dipertahankan oleh raja-raja berikutnya.
Akbar
mengganti ayahnya pada saat usia 14 tahun, sehingga urusan kerajaan diserahkan
kepada Bairam Khahan, seorang syi’ah. Pada masa pemerintahanya, Akbar
melancarkan serangan untuk memerangi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher
Khan Shah yang berkuasa di Punjab. Pemberontakan lain dilakukan oleh Himu yang
menguasai Gwalior dan Agra. Pemberontakan tersebut disambut oleh Bairam Khan
sehingga terjadi peperangan dasyat, yang disebut panipat 2 tahun 1556 M. Himu
dapat dikalahkan dan ditangkap kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan
Kwalior dapat dikuasai penuh.
Setelah
Akbar dewasa, ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai
pengaruh kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran syi’ah. Bairam Khan
memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M.
Setelah
itu masa kejayaan kerajaan Mughal berhasil dipertahankan oleh putra beliau
yaitu Jehangir yang memerintah selama 23 tahun (1605-1628 M). Namun Jehangir
adalah penganut Ahlussunah Wal Jamaah, sehingga Din-i-Illahi yang dibentuk
ayahnya menjadi hilang pengaruhnya.[5]
Sepeninggalan Jehangir pucuk kekuasaan kerajaan Mughal di pegang oleh Syeh
Jehan yang memerintah Mughal selam 30 tahun (1628-1658 M). Pada masa
pemerintahanya banyak muncul pemberontakan dan perselisihan dalam internal
keluarga istana. Namun semua itu dapat diatasi oleh beliau, bahkan beliau
berhasil memperluas kekuasaanya Hyderabat, Maratha, dan Kerajaan Hindu lain
yang belum tunduk kepada pemerintahan Mughal. Keberhasilan itu tidak bisa
lepas dari peran Aurangzeb, putera ketiga dari Syeh Jehan.
Pengganti
Syeh Jehan yaitu Aurangzeb, beliau berhasil menduduki tahta kerajaan setelah
berhasil menyingkirkan para pesaingnya (saudaranya). Pada masanya kebesaran
Mughal mulai menggema kembali, dan kebesaran namanya-pun disejajarkan dengan
pendahulunya dulu, yaitu Akbar.
Adapun
usaha-usaha Aurangzeb dalam memajukan kerajaan Mughal diantaranya menghapuskan
pajak, menurunkan bahan pangan dan memberantas korupsi, kemudian ia membentuk
peradilan yang berlaku di India yang dinamakan fatwa alamgiri sampai
akhirnya meninggal pada tahun 1707 M. Selama satu setengah abad, India di bawah
Dinasti Mughal menjadi salah satu negara adikuasa. Ia menguasai perekonomian
Dunia dengan jaringan pemasaran barang-barangnya yang mencapai Eropa, Timur
Tengah, Asia Tenggara dan Cina. Selain itu, India juga memiliki pertahanan
militer yang tangguh yang sukar ditaklukkan dan kebudayaan yang tinggi.[6]
Dengan
besarnya nama kerajaan Mughal, banyak sekali para sejarawan yang mengkaji
tentang kerajaan ini. Dan pada masa itu telah muncul seorang sejarawan
yang bernama Abu Fadl dengan karyanya Akhbar Nama dan Aini Akhbari, yang
memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figure pemimpinnya. Sedangkan
karya seni yang dapat dinikmati sampai sekarang dan karya seni terbesar yang
dicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan
masjid-masjid yang indah. Pada masa Syah jehan dibangun Masjid Berlapis mutiara
dan Taj Mahal di Agra, Masjid Raya Delhi dan Istana Indah di Lahore.
C.
Hasil-Hasil Kebudayaan Kerajaan
Mughal
1. Bidang
Politik dan Militer
Sistem yang menonjol adalah politik Sulh-E-Kul atau
toleransi universal. Sistem ini sangat tepat karena mayoritas masyarakat India
adalah Hindu sedangkan Mughal adalah Islam. Disisi lain terdapat juga ras atau
etnis lain yang juga terdapat di India. Lembaga yang produk dari Sistim ini
adalah Din-I-Ilahi dan Mansabhadari. Dibidang militer, pasukan Mughal dikenal
pasukan yang sangat kuat. Mereka terdiri dari pasukan gajah berkuda dan
meriam. Wilayahnya dibagi distrik-distrik. Setiap distrik dikepalai oleh
sipah salar dan sub distrik di kepalai oleh faudjar. Dengan sistim ini pasukan
Mughal berhasil menaklukan daerah-daerah di sekitarnya.
2. Bidang
Ekonomi
Perekonomian
kerajaan Mughal tertumpu pada bidang agrari, mengingat keadaan Geografi dan
Geologi wilayah India. Hasil pertanian kerajaan Mughal yang terpenting ketika
itu adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah,
tembakau, kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.Di samping untuk kebutuhan dalam
negeri, hasil pertanian itu diekspor ke Eropa, Afrika, Arabia, dan Asia
Tenggara bersamaan dengan hasil kerajinan, seperti pakaian tenun dan kain tipis
bahan gordiyn yang banyak diproduksi di Gujarat dan Bengawan. Untuk
meningkatkan produksi, Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617
M) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat.
3. Bidang
Seni dan Arsitektur
Bersamaan
dengan majunya bidang ekonomi, bidang seni dan budaya juga berkembang. Karya
seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang
berbahasa Persia maupun berbahasa India. Penyair India yang terkenal adalah
Malik Muhammad Jayazi, seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar
berjudul Padmavat, sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebijakan
jiwa manusia. Karya seni yang masih dapat dinikmati sekarang dan merupakan
karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur
yang indah dan mengagumkan. Pada masa akbar dibangun istana Fatpur Sikri di
Sikri, vila, dan masjid-masjid yang indah. Pada masa Syah Jehan, dibangun
masjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra, masjid raya Delhi dan istana
indah di Lahore.[7]
4. Bidang
Ilmu Pengetahuan
Dinasti Mughal juga banyak memberikan sumbangan di bidang
ilmu pengetahuan. Sejak berdiri, banyak ilmuan yang datang ke India untuk
menuntut ilmu pengetahuan. Bahkan Istana Mughal pun menjadi pusat kegiatan
kebudayaan. Hal ini adanya dukungang dari penguasa dan bangsawan seta Ulama.
Aurangzeb misalnya membelikan sejumlah uang yang besar dan tanah untuk
membangun sarana pendidikan.
Pada tiap-tiap masjid memiliki lembaga tingkat dasar yang
dikelola oleh seorang guru. Pada masa Syah Jahan didirikan sebuah Perguruan
Tinggi di Delhi. Jumlah ini semakin bertambah ketika pemerintah di pegang oleh
Aurangzeb. Dibidang ilmu agama berhasil dikondifikasikan hukum Islam yang
dikenal dengan sebutan Fatawa-I-Alamgiri.
D. Kemunduran
dan Runtuhnya Kerajaan Mughal
Kemunduran dan kehancuran Kerajaan dimulai setelah satu
setengah abad, tepatnya setelah masa pemerintahan Aurangzeb. Para pelanjut
Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dicapai oleh
pendahulu-pendahulunya. Kejayaan Mughal hilang diawali dengan kematian
Aurangzeb, dan satu persatu penguasa daerah mulai melepaskan diri dari
pemerintahan pusat di Delhi.
Pengganti Aurangzeb adalah Mu’azzam, setelah ia meninggal
tahta digantikan anaknya Azhim al-syah. Akan tetapi di tentang Zulkifar Khan,
anak ‘Asad Khan. Azaim al-syah meninggal tahun 1712 M. Ia digantikan oleh
anaknya Jihandar Syah, tetapi ia disingkirkan oleh adiknya sendiri Faruq Syah
pada tahun 1713 M. Jadi dalam dua tahun saja telah terjadi empat kali
pergantian sultan.
Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan
terhadap daerah lemah. Pemerintahan daerah satu persatu melepaskan loyalitasnya
dari pemerintah pusat. Bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahannya
masing-masing.
Pada saat tiga sultan berkuasa yaitu, Syah Alam, Akbar II
dan Bahadur Syah, Inggris diberi kepercayaan untuk mengembangkan usahanya
tetapi dengan jaminan memberikan fasilitas kehidupan Istana dan keluarganya.
Pada saat terjadi krisis, EIC mengalami kerugian dan Inggris pun mulai
mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung
kasar. Karena rakyat merasa tertekan, maka terjadilah pemberontakan rakyat dibawah
pimpinan sultan Bahadur Syah pada bulan Mei 1857 M.
Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah, karena
Inggris mendapat dukungan dari beberapa penguasa Hindu dan Muslim. Inggris
kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam kepada pemberontak. Mereka diusir dari
kota Delhi, rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, sultan
Mughal terakhir diusir dari istana (1858 M) maka berakhirlah sejarah kekuasaaan
kerajaan Mughal di India.
Ada beberapa faktor yang menyebab kekuasaan kerajaan Mughal
itu mundur pada satu setengah abad terakhir, dan membawa kepada kehancurannya
pada tahun 1858 M, yaitu:
1.
Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuasaan militer sehingga
operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat dipantau oleh
kekuatan maritim Mughal. Begitu juga tidak terampilnya dalam mengoperasikan
persenjataan buatan Mughal sendiri.
2.
Kemerosotan moral dan hidup mewah dikalangan elite politik,
yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
3.
Kurang cakapnya pemerintahan Aurangzeb sehingga konflik
antar agama terjadi sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya
4.
Semua sultan pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir
adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
Faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah serangan
dari kerajaan. Serangan ini mulanya dilakukan oleh kerajaan Safawi di Persia
yang memperebutkan wilayah Qandahar. Pada 1622 M, daerah ini berhasil dikuasai
oleh Safawi. Pada 1739 M, Nadir Syah dari Safawi menyerbu Mughal dengan alasan
bahwa Mughal tidak mau menerima duta bangsa yang dikirim olehnya. Lalu disusul
ketegangan dengan Afganistan pada masa pemerintahan Muhammad Syah, kerajaan
Mughal mendapat serangan dari suku afgan yang dipimpin oleh Ahmad Syah. Pada
1748 Ahmad Syah berhasil menguasai Lahore.
Pemberontakan Hindu juga turut memperkeruh suasana, Hindu
yang merupakan mayoritas di sana, tidak senang menjadi warga kelas dua
dibandingkan Islam yang menjadi warga kelas satu padahal jumlahnya minoritas.
Hal ini menimbulkan banyak sekali pemberontakan yang membuat repot kerajaan
Mughal terlebih disaat yang hampir bersamaan muncul pula tekanan dari Inggris.
Keruntuhan Mughal juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi,
dimana kemunduran politik negeri ini sangat menguntungkan bangsa-bangsa barat
untuk menguasai jalur perdagangan. Persaingan diantara mereka akhirnya
dimenangi oleh Inggris yang kemudian untuk memperkuat pengaruhnya, mendirikan
EIC (East India Company). Dengan mendatangkan pasukan kerajaan inggris untuk
mengamankan dan mestabilkan wilayahnya. Menyadari kekuatan Mughal semakin
menurun, maka Syah Alam membuat perjanjian dengan Inggris, dimana ia
menyerahkan Oudh, Bengal dan Orisa kepada inggris.
Monopoli Inggris yang sangat otoriter dan cenderung keras,
membuat rakyat Mughal yang muslim maupun Hindu, bersama-sama mengadakan
pemberontakan, tetapi dapat dikalahkan walaupun dalam serangan itu, pasukan
Hindu yang memulainya, akan tetapi Inggris melihat umat Islam dan Bahadur Syah
II, ikut campur dalam penyerangan itu. Maka sebagai hukumannya, Inggris
memporak-porandakan wilayah Mughal dengan kekuatan senjatanya yang selangkah
lebih maju dibandingkan pasukan Mughal dan Hindu. Masjid dan Candi menjadi
sasaran penghancuran. Bahadur sendiri di usir dari istana pada 1858 M, maka
sejak saat itu berakhirlah kekuasaan kerajaan Mughal di India.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Kerajaan Mogul (Mughal-pen) ini
didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530M)[8],salah
satu dari cucu Timor Lenk. Ayahnya Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur
mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Kerajaan
Mughal merupakan warisan kebesaran Timur Lenk, dan bukan warisan keturunan
India yang asli. Meskipun demikian, Dinasti Mughal telah memberi warna
tersendiri bagi peradaban orang-orang India yang sebelumnya identik dengan
agama Hindu.
2. Masa kejayaan kerajaan Mughal
dimulai pada pemerintahan Akbar (1556-1506 M), dan tiga raja penggantinya,
yaitu Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M), Aurangzeb (1658-1707
M). Setelah itu, kemajuaan kerajaan Mughal tidak dapat dipertahankan oleh
raja-raja berikutnya.
3. Sistem Politik yang menonjol adalah
politik Sulh-E-Kul atau toleransi universal. Dibidang militer, pasukan Mughal
dikenal pasukan yang sangat kuat. Mereka terdiri dari pasukan gajah berkuda dan
meriam. Wilayahnya dibagi distrik-distrik. Setiap distrik dikepalai oleh
sipah salar dan sub distrik di kepalai oleh faudjar. Perekonomian kerajaan
Mughal tertumpu pada bidang agrari, mengingat keadaan Geografi dan Geologi
wilayah India. Hasil pertanian kerajaan Mughal yang terpenting ketika itu
adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau,
kapas, nila, dan bahan-bahan celupan Bersamaan dengan majunya bidang ekonomi,
bidang seni dan budaya juga berkembang. Karya seni yang menonjol adalah karya
sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun berbahasa
India. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi, seorang
sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar berjudul Padmavat, sebuah
karya alegoris yang mengandung pesan kebijakan jiwa manusia. Dibidang
Pendidikan pada tiap-tiap masjid memiliki lembaga tingkat dasar yang dikelola
oleh seorang guru. Pada masa Shah Jahan didirikan sebuah Perguruan Tinggi di
Delhi.
4. Penyebab kemunduran dan kuhancuran
kerajaan Mughal.Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuasaan militer sehingga
operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat dipantau oleh
kekuatan maritime Mughal. Begitu juga tidak terampilnya dalam mengoperasikan
persenjataan buatan Mughal sendiri, Kemerosotan moral dan hidup mewah
dikalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang
negara, Kurang cakapnya pemerintahan Aurangzeb sehingga konflik antar agama
terjadi sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya, Semua sultan
pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang
kepemimpinan.
B. Saran
1.
Bagi
peserta didik seyogyanya mampu mengembangkan ilmu yang telah dimiliki dengan
baik dan mengamalkanya dalam kehidupan sehari hari.
2.
Bagi
pendidik seharusnya mampu mengajarkan tentang bab yang dibahas dalam makalah
ini kepada peserta didik agar mereka bisa memahami tentang Kerajaan Mughal.
3.
Bagi
pembaca hendaknya mampu memahi isi makalah ini supaya dapat bermanfaat dalam
masyarakat.
DAFTAR RUJUKAN
Maryam,
Siti dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta : LESFI, 2002.
Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban
Islam, Bandung : Pustaka Setia, 2008.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban
Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,1993.
SUMBER INTERNET :
http://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/kerajaan-islam-mughal-di-india.html diakses pada tgl 15/04/2016 Pkl. 08.35 wib
http://agsal4.blogspot.com/2016/01/makalah-kerajaan-mughal.html
diakses pada tgl 15/04/2016 Pkl. 08.35 wib
http://aisaisyah8.blogspot.com/2015/05/makalah-dinasti-mughal.html
diakses pada tgl 15/04/2016 Pkl. 08.35 wib
[1] Dedi Supriyadi, Sejarah
Peradaban Islam, Bandung : Pustaka Setia, 2008, hlm. 261
[2] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada,1993, hlm. 147
[3] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada,1993, hlm. 147
[6] http://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/kerajaan-islam-mughal-di-india.html diakses pada tgl 15/04/2016 Pkl. 08.35 wib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar