Kamis, 08 Desember 2016

SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM (Model-model dan Pendekatan Supervisi Pendidikan)



MODEL - MODEL DAN PENDEKATAN SUPERVISI PENDIDIKAN

MATERI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Supervisi Pendidikan Islam”

                                          Dosen Pengampu: Habibie Yusuf, S.Pd.,M.Pd.I.


Disusun Oleh:
Yogi Eko Prasetyanto
(1721143423)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI - 5 F)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)  
TULUNGAGUNG
DESEMBER 2016



MODEL - MODEL DAN PENDEKATAN SUPERVISI PENDIDIKAN

A.    Pengembangan Model Supervisi
Yang dimaksud dengan model dalam uraian ini ialah suatu pola, contoh, acuan dari supervisi yang diterapkan. Ada berbagai model yang berkembang. Antara lain : [1]
  1. Model Supervisi yang Konvensional (Tradisional)
Model ini tidak lain dari refleksi dari kondisi masyarakat pada suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal, akan berpengaruh pada sikap pemimpin yang otokrat dan korektif. Pemimpin cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Perilaku supervisi ialah mengadakan inspeksi untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan. Kadang-kadang bersifat memata-matai. Perilaku seperti ini disebut snooper vision (memata-matai). Sering disebut supervisi yang korektif. Memang sangat mudah untuk mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi lebih sulit lagi “untuk melihat segi-segi positif dalam hubungan dengan hal-hal yang baik”. Pekerjaan seorang supervisor yang bermaksud hanya untuk mencari kesalahan adalah suatu permulaan yang tidak berhasil.Mencari-cari kesalahan dalam membimbing sangat bertentangan dengan prinsip dan tujuan supervisi pendidikan. Akibatnya yang disupervisi merasa tidak puas dan ada dua sikap yang tampak dalam kinerja guru, yaitu: Acuh tak acuh (masa bodoh), dan Menantang (agresif).
Praktek mencari-cari kesalahan dan menekan bawahan ini masih tampak sampai saat ini. Para pengawas datang ke sekolah dan menanyakan mana satuan pelajaran. Ini salah dan seharusnya begini. Praktek-praktek supervisi seperti ini adalah cara memberi supervisi yang konvensional. Ini bukan berarti bahwa tidak boleh menunjukkan kesalahan. Masalahnya ialah bagaimana cara kita mengkomunikasikan apa yang dimaksudkan sehingga yang disupervisi  menyadari bahwa dia harus memperbaiki kesalahan. Yang disupervisi akan dengan senang hati melihat dan menerima bahwa ada yang harus diperbaiki. Caranya harus secara taktis pedagogis atau dengan perkataan lain, memakai bahasa penerimaan bukan bahasa penolakan.
  1. Model Supervisi yang Bersifat Ilmiah
Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:[2]
(1) Dilaksanakan secara berencana dan kontinu,
(2) Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu,
(3) Menggunakan instrumen pengumpulan data,
(4) Ada data yang objektif yang diperoleh dari keadaan yang riil.
Dengan menggunakan merit rating, skala penilaian atau checklist lalu para siswa atau mahasiswa menilai proses kegiatan belajar-mengajar guru/dosen di kelas. Hasil penilaian diberikan kepada guru-guru sebagai balikan terhadap penampilan mengajar guru pada semester yang lalu. Data ini  berbicara kepada guru dan guru kemudian mengadakan perbaikan. Penggunaan alat perekam data ini berhubungan erat dengan penilaian. Walaupun demikian, hasil perekam data secara ilmiah belum merupakan jaminan untuk melaksanakan supervisi yang lebih manusiawi.
  1. Model Supervisi Klinis
Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional. Supervisi klinis adalah proses membantu dosen memperkecil kesenjangan antara tingkah laku rnengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal.
# Mengapa Perlu dikembangkan Supervisi Klinis di Lingkungan Guru-guru?
Ada berbagai faktor yang mendorong dikembangkannya supervisi klinis bagi guru-guru:[3]
a.       Dalam kenyataan yang dikerjakan supervisi ialah mengadakan evaluasi guru-guru semata. Diakhir satu semester guru-guru mengisi skala penilaian yang diisi peserta didik mengenai cara mengajar guru. Hasil penilaian diberikan kepada guru-guru, tapi tidak dianalisis mengapa sampai guru-guru dalam mengajar hanya mencapai tingkat penampilan seperti itu. Cara ini menyebabkan ketidakpuasan guru secara tersembunyi
b.      Pusat pelaksanaan supervisi adalah supervisi, bukan berpusat pada apa yang dibutuhkan gutu, baik kebutuhan profesional sehingga guru-guru tidak merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi pertumbuhan profesinya.
c.       Dengan menggunakan merit rating (alat penilaian kemampuan guru), maka aspek-aspek yang diukur terlalu umum. Sukar sekali untuk mendeskripsikan tingkah laku guru yang paling mendasar seperti yang meraka rasakan, karena diagnosisnya tidak mendalam, tapi sangat bersifat umum dan abstrak.
d.      Umpan balik yang diperoleh dari hasil pendekatan. Sifatmya memberi arahan, petunjuk, instruksi, tidak menyentuh masalah manusia yang terdalam yang dirasakan guru-guru, sehingga hanya bersifat dipermukaan.
e.       Tidak diciptakan hubungan identifikasi dan analisis diri, sehingga guru-guru melihat konsep dirinya. Seperti yang dikemukakan P. Winggens bahwa dalam diri seseorang ada 3 konsep diri, yaitu :
1)      Saya dengan self concept saya sendiri.
2)      Saya dengan self idea saya sendiri.
3)      Saya dengan self reality saya sendiri. Supervisi selama dalam membentuk konsep diri guru sehingga menemukan dirinya sendiri dan menjadi diri sendiri.
f.       Melalui diagnosis dan analisis dirinya sendiri, guru menemukan dirinya. Ia akan sadar kemampuan dirinya dengan menerima dirinya dan timbul motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk memperbaiki dirinya sendiri. Praktek-praktek supervisi yang tidak manusiawi itu menyebabkan kegagalan dalam pemberian supervisi klinis.
  1. Model Supervisi Artistik[4]
Mengajar adalah suatu pengetahuan (knowledge), mengajar itu suatu keterampilan (skill), tapi mengajar juga suatu kiat (art). Sejalan dengan tugas mengajar, supervisi juga merupakan kegiatan mendidik sehingga dapat dikatakan bahwa supervisi adalah suatu pengetahuan, suatu keterampilan dan juga suatu kiat.
Supervisi itu menyangkut bekerja untuk orang lain (working for the others), bekerja dengan orang lain (working with the others), bekerja melalui orang lain (working through the others). Dalam hubungan bekerja dengan orang lain maka suatu rantai hubungan kemanusiaan adalah unsur utama. Hubungan antar manusia dapat tercipta bila ada kerelaan untuk menerima orang lain sebagaimana adanya. Hubungan itu dapat tercipta bila ada unsur kepercayaan. Saling percaya,  saling mengerti,saling menghormati, saling mengakui, saling menerima seseorang sebagaimana adanya.

B.     Pendekatan Supervisi Pendidikan
  1. Pendekatan Langsung (direktif)
Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan. Pendekatan direktif ini berdasarkan pada pemahaman terhadap psikologis behaviorisme. Prinsip behaviourisme ialah bahwa segala perbuatan yang  berasal dari refleks, yaitu respons terhadap rangsangan/ stimulus. Oleh karena guru memiliki kekurangan, maka perlu diberikan rangsangan agar ia bisa bereaksi.
Supervisor dapat menggunakan penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment). Pendekatan seperti ini dapat dilakukan dengan perilaku supervisor seperti berikut ini :
1)      Menjelaskan,
2)      Menyajikan,
3)      Mengarahkan,
4)      Memberi contoh,
5)      Menerapkan tolok ukur, dan
6)      Menguatkan.[5]
  1. Pendekatan Tidak Langsung (Non-Direktif)
Yang dimaksud dengan pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung.Perilaku supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan, tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan oleh guru-guru. Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin kepada yang disupervisi untuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Pendekatan non-direktif ini berdasarkan pada pemahaman psikologis humanistik. Psikologi humanistik sangat menghargai orang yang akan dibantu. Oleh karena pribadi guru yang dibina begitu dihormati, maka ia lebih banyak mendengarkan permasalahan yang dihadapi oleh guru-guru. Guru mengemukakan masalahnya, supervisor mencoba mendengarkan, memahami apa yang dialami guru-guru.
  1. Pendekatan Kolaboratif
Yang dimaksud dengan pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non-direktif menjadi pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama, bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melakasanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Pendekatan ini didasarkan pada psikologi kognitif. Psikologi kognitif beranggapan bahwa belajar adalah hasil paduan antara kegiatan individu dengan lingkungan pada gilirannya nanti berpengaruh dalam pembentukan aktifits individu. Dengan demikian pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah. Dari atas ke bawah ke atas. Perilaku supervisor adalah sebagai berikut:
a.       Menyajikan
b.      Menjelaskan
c.       Mendengarkan
d.      Memecahkan masalah
e.       Negoisasi[6]




PENUTUP
Demikian sedikit materi yang saya ketik dan saya bagikan di blog saya ini, semoga yang bermanfaat bagi diri saya sendiri maupun orang lain. Sumber yang saya ambil ini dari materi-materi yang telah diajarkan oleh bapak Habibie Yusuf, S.Pd.,M.Pd.I., selaku Dosen mata kuliah “Supervisi Pendidikan Islam” saya selama perkuliahan Semester 5. Sumber lainnya yang saya ambil dan saya ketik adalah dari buku yang berjudul “Supervisi Pendidikan” oleh Ibu Luk-Luk Nur Mufidah, M.Pd.I, beliau juga Dosen di kampus saya yakni kampus IAIN Tulungagung.
“Sekian dari blog saya, Mohon Maaf apabila ada kata yang kurang berkenan dihati para pembaca dan terima kasih”

SEMOGA BERKAH DAN BERMANFAAT




 


Sumber/Referensi :
Nur Mufidah, Luk-Luk, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: Teras , 2009.


[1] Luk-Luk Nur Mufidah, Supervisi Pendidikan, (Yogyakarta: Teras , 2009), hlm. 29-30.
[2] Luk-Luk Nur Mufidah, Supervisi Pendidikan …, hlm. 30-31.
[3] Luk-Luk Nur Mufidah, Supervisi Pendidikan …, hlm. 32-33.
[4] Luk-Luk Nur Mufidah, Supervisi Pendidikan …, hlm. 37.
[5] Luk-Luk Nur Mufidah, Supervisi Pendidikan …, hlm. 39-40.
[6] Luk-Luk Nur Mufidah, Supervisi Pendidikan …, hlm. 41-43 .

Tidak ada komentar: