BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Secara umum
pendidikan adalah sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang
fundamental, baik menyangkut daya fikir (intelektual) maupun daya perasaan
(emosional).[1] Menurut Hasan Langgulung pengertian ilmu pendidikan Islam adalah
suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peran memindahkan
pengetahuan, dan nilai-nilai Islam yang
dijelaskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasinya di
akhirat.[2]
Pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung sejak masuknya Islam ke
Indonesia. Dimana peranan para pedagang dan mubaligh sangat besar andilnya
dalam proses Islamisasi di Indonesia. Salah satu jalur proses Islamisasi itu
adalah pendidikan. Pendidikan Islam di Indonesia mengikuti masa dan dinamika
perkembangan kaum muslimin. Dalam suatu komunitas muslim, maka terdapat tingkat
aktivitas pendidikan Islam yang dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi.
Mengetahui sejarah dari pendidikan Islam itu sendiri adalah sangat penting
terutama di Indonesia, termasuk bagi para praktisi pendidikan. Dengan
mempelajari sejarah masa lampau, umat Islam dapat memahami sebab-sebab kemajuan
dan kemunduran pendidikan Islam dari masa ke masa. Terutama interaksi yang
terjadi dalam masyarakat, antara individu maupun antara golongan, akan
menimbulkan suatu dinamika kehidupan kedinamikaan dan perubahan kehidupan akan
bermuara pada terjadinya mobilitas sosial. Sehingga dapat dilakukan
penyelidikan tentang struktur dan dinamika masyarakat yang berpengaruh terhadap
perkembangan dan hambatan yang dialami Pendidikan Islam di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Problematika Pendidikan Islam di Indonesia?
2. Bagaimana Tantangan Pendidikan Islam di Indonesia?
3. Bagaimana Solusi Problematika dan Tantangan Pendidikan Islam di
Indonesial?
C. Tujuan Pembahasan Masalah
1. Untuk mengetahui Problematika Pendidikan Islam di Indonesia.
2. Untuk mengetahui Tantangan Pendidikan Islam di Indonesia.
3. Untuk mengetahui Solusi Problematika dan Tantangan Pendidikan Islam di
Indonesia,
D. Batasan Masalah
Dalam makalah ini kami hanya membahas tentang Problematika Pendidikan
Islam di Indonesia, Tantangan Pendidikan Islam di Indonesia dan Solusi
Problematika dan Tantangan Pendidikan Islam di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Menghadapi keadaan yang demikian itu dunia pendidikan pada umumnya dan
pendidikan Islam pada khususnya kini berada di persimpangan jalan, yakni antara
jalan untuk mengikuti tarikan eksternal sebagai pengaruh era globalisasi, atau
tarikan internal yang merupakan misi utama pendidikan yaitu membentuk manusia
seutuhnya, yaitu manusia yang terbina seluruh potensinya secara seimbang.[3] Pendidikan Islam dapat diartikaan sebagai
upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk membentuk kepribadian peserta didik
sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islami (Islamic values). Didalam rangka untuk mengimplementasikan pendidikan Islam tersebut
diperlukan perangkat-perangkatnya, seperti: tujuan, lembaga, kurikulum,
pendidik, metode dan evaluasi.[4] Pendidikan Islam diakui
keberadaannya dalam sistem pendidikan yang terbagi menjadi tiga hal. Pertama,
Pendidikan Islam sebagai lembaga diakuinya keberadaan lembaga
pendidikan Islam secara Exsplisit. Kedua, Pendidikan
Islam sebagai Mata Pelajaran diakuinya pendidikan agama sebagai salah satu
pelajaran yang wajib diberikan pada tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Ketiga, Pendidikan
Islam sebagai nilai (value) yakni ditemukannya nilai-nilai Islami dalam sistem pendidikan.
Walaupun
demikian, pendidikan Islam tidak luput
dari problematika yang muncul di era global ini. Terdapat dua faktor dalam problematika tersebut, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal.
1.
Faktor
internal
a.
Relasi
Kekuasaan dan Orientasi Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan pada dasarnya hanya satu, yaitu
memanusiakan manusia atau mengangkat harkat dan martabat manusia (human
dignity), yaitu menjadi khalifah dimuka bumi dengan tugas dan tanggung
jawab memakmurkan kehidupan dan memelihara lingkungan. Tujuan pendidikan yang
selama ini diorientasikan memang sangat ideal bahkan, lantaran terlalu ideal
tujuan tersebut tidak pernah terlaksana dengan baik.
b.
Masalah
Kurikulum
Sistem
sentralistik terkait erat dengan birokrasi atas bawah yang sifatnya otorier
yang terkesan pihak “bawah” harus melaksanakan seluruh keinginan pihak “atas”.
Dalam sistem yang seperti ini inovasi dan pembaharuan tidak akan muncul. Dalam
bidang kurikulum sistem sentralistik ini juga
mempengaruhi output pendidikan. Tilaar menyebutkan kurikulum yang terpusat,
penyelenggaraan sistem manajemen yang
dikendalikan dari atas telah menghasilkan output pendidikan manusia robot.
Selain kurikulum yang sentralistik, terdapat pula beberapa kritikan kepada
praktik pendidikan berkaitan dengan syaratnya kurikulum sehingga seolah-olah
kurikulum itu kelebihan muatan. Hal ini juga mempengaruhi kualitas pendidikan.
Anak-anak terlalu banyak terbebani oleh mata pelajaran.
c.
Pendekatan/metode
pembelajaran
Peran guru
atau dosen sangat besar dalam
meningkatkan kualitas kompetensi siswa/mahasiswa. Dalam belajar ia harus mampu
membangkitkan potensi, memotivasi, memberikan suntikan dan menggerakkan siswa
atau mahasiswa melalui pola pembelajaran yang kreatif dan konstektual (menggunakan
teknologi yang memadahi), Pola pembelajaran yang demikian akan menunjang
tercapainya sekolah yang unggul dan kualitas lulusan yang siap bersaing dalam
arus perkembangan zaman
d.
Profesionalitas
dan Kualitas SDM
Salah satu
masalah besar yang dialami dunia pendidikan di Indonesia sejak masa Orde Baru
adalah profesionalisme guru dan tenaga pendidikan yang masih belum memadai.
Secara kuantitatif, jumlah guru dan tenaga kependidikan lainnya agaknya sudah
cukup memadai, tetapi dari segi mutu dan profesionalisme masih belum memenuhi
harapan. Banyak guru dan tenaga kependidikan masih unqualified,
underqualified, dan mismatch, sehingga mereka tidak atau kurang
mampu menyajikan atau menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar kualitatif.
e.
Biaya
Pendidikan
Faktor biaya
pendidikan adalah hal penting, dan menjadi persoalan tersendiri yang
seolah-olah menjadi kabur mengenai siapa yang bertanggung jawab atas persoalan
ini. Terkait dengan amanat konstitusi sebagaimana termaktub dalam UUD 45 hasil
amandemen, serta UU Sisdiknas No. 20. Tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional yang memerintahkan negara mengalokasikan dan minimal 20% dari APBN dan
ABPD di masing-masing daerah, namun hingga sekarang belum terpenuhi. Bahkan
pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan genap 20% hingga tahun 2009
sebagaimana yang dirancang dalam anggaran strategis pendidikan.
2.
Faktor Eksternal
a.
Dichotomic
Masalah besar yang dihadapi dunia pendidikan Islam adalah dichotomic
dalam beberapa aspek yaitu antara ilmu agama dengan ilmu umum, antara wahyu
dengan akal setara antara wahyu dengan alam. Munculnya problem dikotomi dengan
segala perdebatannya telah berlangsung sejak lama. Boleh dibilang gejala ini
mulai tampak pada masa-masa pertengahan. Menurut rahman, dalam melukiskan watak
ilmu pengetahuan Islam zaman pertengahan menyatakan bahwa, muncul persaingan
yang tak berhenti antara hukum dan teologi untuk mendapat julukan sebagai
mahkota semua ilmu.
Dr. Asharaf menuliskan, semakin hebat krisis yang kita hadapi sekarang
dalam masyarakat kita dan dalam sistem pendidikan kita berasal dari kegagalan
ini, meskipun telah ada usaha-usaha yang dijalankan untuk mewajibkan pendidikan
agama, sampai kini belum terlihat usaha untuk mengajarkan literatur dan
kesenian murni. Ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam dari sudut pandang Islam.
Akibatnya apa yang telah dipelajari oleh anak-anak dari agama bertentangan
dengan apa yang diberikan pada mereka melalui ilmu sastra, ilmu sosial dan ilmu
alam.
b.
To General Knowledge
Kelemahan dunia pendidikan Islam berikutnya adalah sifat ilmu
pengetahuannya yang masih terlalu general/umum dan kurang memperhatikan kepada
upaya penyelesaian masalah (problem solving). Produk-produk yang dihasilkan
cenderung kurang membumi dan kurang selaras dengan dinamika masyarakat. Menurut
Syed Hussein Alatas menyatakan bahwa, kemampuan untuk mengatasi berbagai
permasalahan, mendefinisikan, menganalisis, dan selanjutnya mencari jalan
keluar/pemecahan masalah tersebut merupakan karakter dan sesuatu yang mendasar
kualitas sebelah intelektual. Ia menambahkan, ciri terpenting yang membedakan
dengan non-intelektual adalah tidak adanya kemampuan untuk berfikir dan tidak
mampu melihat konsekuensinya.
c.
Lack Of Spirit Of Inquiry
Persoalan besar lainnya yang menjadi penghambat kemajuan dunia
pendidikan Islam ialah rendahnya semangat untuk melakukan
penelitian/penyelidikan. Syed Hussein Alatas merujuk kepada pernyataan The
Spiritus Rector Dari Modernisme Islam, Al-Afghani, menganggap rendahnya “The
Intellectual Spirit” (semangat intelektual) menjadi salah satu faktor
terpenting yang menyatakan kemunduran Islam di Timut Tengah.
d.
Memorisasi
Rahman
menggambarkan bahwa, kemerosotan secara gradual dari standar-standar akademis
yang berlangsung selama berabad-abad tentu terletak pada kenyataan bahwa,
karena jumlah buku-buku yang tertera dalam kurikulum sedikit sekali, maka waktu
yang diperlukan untuk belajar juga terlalu singkat bagi pelajar untuk dapat
menguasai materi-materi yang seringkali sulit untuk dimengerti, tentang
aspek-aspek tinggi ilmu keagamaan pada usia yang relatif muda dan belum matang.
Hal ini pada gilirannya menjadikan belajar lebih banyak bersifat studi
tekstual daripada pemahaman pelajaran yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan
dorongan untuk belajar dengan sistem hafalan (memorizing) daripada pemahaman
yang sebenarnya. Kenyataan menunjukkan bahwa abad-abad pertengahan yang akhir
hanya menghasilkan sejumlah besar karya-karya.
e. Certificate Oriented
Pola yang dikembangkan pada masa awal-awal Islam. Yaitu thalab al’ilm,
telah memberikan semangat dikalangan muslim untuk gigih mencari ilmu, melakukan
perjalanan jauh, penuh resiko, guna mendapatkan kebenaran suatu Hadits, mencari
guru diberbagai tempat, dan sebagainya. Hal tersebut memberikan isyarat bahwa
karakteristik para ulama muslim masa-masa awal didalam mencari ilmu adalah Knowledge
Oriented. Sehingga tidak mengherankan jika pada masa-masa itu banyak lahir
tokoh-tokoh besar yang memberikan banyak kontribusi berharga, ulama-ulama
encyclopedic, karya-karya besar sepanjang masa. Sementara, jika dibandingkan
dengan pola yang ada pada masa sekarang dalam mencari ilmu menunjukkan
kecenderungan adanya pergeseran dari Knowledge Oriented menuju Certificate
Oriented semata. Mencari ilmu hanya merupakan sebuah proses untuk
mendapatkan sertifikat atau ijazah saja, sedangkan semangat dan kualitas
keilmuan menempati prioritas berikutnya.[5]
B.
TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Manusia dan
pendidikan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seiring berkembangnya
kehidupan manusia, pendidikan dituntut untuk bisa menyediakan jalan bagi
manusia untuk menghadapi berbagai hal dalam kehidupannya.
Secara garis
besar, tantangan terhadap dunia pendidikan dapat dibedakan menjadi tantangan
internal dan eksternal. Secara internal, hasil-hasil studi yang menempatkan
Indonesia pada peringkat terbawah dalam pendidikan dan peringkat teratas dalam
korupsi yang disebutkan berulang-ulang dalam berbagai forum maupun media
sehingga membentuk konsep diri bahwa pendidikan Indonesia jelek, tidak bermutu,
dan terbelakang.[6] Sedangkan secara eksternal, Indonesia
dihadapkan dengan perubahan cepat dari lingkungan strategis di luar Indonesia.[7]
Pasar bebas, arus informasi tanpa batas, dan dalam kerangka yang lebih luas:
globalisasi, adalah tantangan yang tidak bisa dipungkiri oleh dunia pendidikan
Indonesia.
Berkaitan
dengan globalisasi, Indra Hasbi, dalam Pendidikan Islam Melawan Globalisasi,
menyebutkan empat dimensi tantangan yang dihadapi umat Islam dalam era globalisasi[8]:
1)
Dimensi
ekonomi; perdagangan bebas pada hakikatnya merupakan wujud dari globalisasi
(liberalisme perdagangan) yang tidak dapat dipisahkan dengan kapitalisme dan
pasar bebas. Lebih jauh, dalam liberalisme, ekonomi tidak hanya berada pada
wilayah ekonomi tetapi telah memasuki arena politik, seksual, komunikasi, dan
pendidikan. Lalu lintas ekonomi global berpedoman pada kecepatan dan percepatan
yang didukung oleh berkembangnya teknologi informasi. Kecepatan dan percepatan
inilah yang melahirkan pasar instan. “instanisasi” yang menyebar lewat arus
informasi tanpa batas kemudian membentuk pola pikir instan yang sangat
berbahaya bagi umat manusia.
2)
Dimensi politik;
globalisasi mengarah pada penyeragaman pemahaman tentang demokrasi dan hak
asasi manusia (HAM) dengan ukuran Amerika yang mengaku sebagai “kampiun
demokrasi”. Untuk menegakkan demokrasi dan
HAM, Amerika tidak segan-segan menggunakan embargo ekonomi, mensponsori PBB
untuk memberikan sanksi pada sebuah negara, bahkan melakukan invasi militer.
Isu terorisme pun dihembuskan oleh Amerika ke segala penjuru dunia dengan umat
Islam sebagai sasaran tuduhan.
3)
Dimensi
sosial-budaya; terbukanya arus informasi oleh teknologi informasi yang maju
pesat memberikan kesempatan pada setiap manusia (yang mampu mendapatkan
fasilitas teknologi informasi) untuk saling mengetahui kondisi sosial dan
budaya masing-masing. Manusia dari berbagai belahan dunia kini mampu
berinteraksi tanpa batas berarti. Dari interaksi ini lahir komunitas dunia maya
dan persaingan antar-individu, hingga terjadi transparansi sosial yaitu kondisi
lenyapnya kategori sosial, batas sosial, dan hierarki sosial karena setiap
manusia bisa mengakses informasi tanpa batas sementara tidak ada nilai-nilai
dan kategori moral yang mengikat jaringan informasi tersebut. Di sisi lain, era globalisasi
memungkinkan manusia dari beragam latar belakang sosial dan budaya dapat saling
mengenal dan memahami sehingga masing-masing pihak dapat mengambil manfaat
mengenai nilai-nilai positif dari bangsa dan budaya lain yang dapat diterapkan
untuk melakukan perbaikan pada bangsa sendiri. Misalnya, budaya disiplin,
menjaga kebersihan, kerja keras, penghargaan terhadap waktu, kompetisi yang
sehat, dsb, dari Barat yang perlu diterapkan pada bangsa Indonesia. Terbukanya
informasi antar bangsa juga
dapat menghilangkan prasangka-prasangka buruk terhadap bangsa lain karena
kurangnya pengetahuan mengenai bangsa tersebut.
4)
Dimensi Iptek;
globalisasi dalam bidang Iptek membawa manfaat sekaligus mudharat. Perkembangan
Iptek yang luar biasa cepat pada satu sisi memberi solusi atas permasalahan
hidup manusia. Bio-teknologi dapat membantu petani dalam meningkatkan mutu dan
jumlah hasil panen. Teknologi nuklir dapat menjadi sumber energi yang sangat
besar. Psikologi dapat membantu manusia mengatasi masalah-masalah kejiwaan.
Namun, pada sisi lain kita mengetahui bahwa penggunaan Iptek juga menimbulkan
kehancuran bagi bumi dan kehidupan manusia. Misalnya, pembangunan jalan tol
justru merusak ekosistem hutan atau ladang masyarakat, ledakan reaktor nuklir
yang mengancam jiwa, juga manipulasi teori bahasa untuk meraih keuntungan
pribadi. Globalisasi bidang Iptek pun melahirkan kompetisi sumber daya manusia.
Tanpa didukung pendidikan yang memadai dalam era globalisasi, mustahil
mendapatkan SDM unggul yang profesional dan siap bersaing secara sehat dengan
SDM dari berbagai bangsa.
Keempat
dimensi tantangan dalam era globalisasi di atas dapat kita pahami sebagai tantangan bagi dunia
pendidikan Indonesia, bukan hanya bagi umat Islam Indonesia, melainkan seluruh
rakyat Indonesia. Dunia pendidikan adalah sasaran utama tantangan-tantangan
tersebut, baik tantangan internal maupun eksternal, mengingat dalam
pendidikanlah pembinaan terhadap SDM Indonesia dilakukan karena negara yang
maju hanya dapat dicapai melalui pendidikan yang maju.
Sebagai
subsistem dari pendidikan nasional, selain mendapatkan tantangan serupa di
atas, pendidikan Islam pun mendapatkan berbagai tantangan lain yang menjadi
“pekerjaan rumah” besar yang mesti dijawab dan dikerjakan sebaik mungkin.
Tantangan bagi pendidikan Islam secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi
dua: tantangan internal dan tantangan eksternal.
Pendidikan Islam setidaknya menghadapi empat
tantangan pokok. Pertama, konformisme kurikulum dan sumber daya manusia.
Konformisme, yakni cepat merasa puas dengan apa yang ada, merupakan penyakit
mematikan bagi kreativitas. Sikap cepat puas menyebabkan lemahnya daya juang
dan etos kerja, serta keringnya inovasi; kedua, perubahan orientasi dari
sekedar mendidik siswa untuk memahami ilmu (pengetahuan) agama menjadi paham
terhadap ilmu agama sekaligus ilmu sosial, ilmu humaniora dan ilmu alam
(tantangan internal); ketiga implikasi perubahan sosial politik; dan keempat,
globalisasi (tantangan eksternal).
Berbagai
kritik pun diarahkan pada pendidikan Islam, baik pada materi maupun metodologi
dan evaluasi. Penyusunan materi pendidikan Islam disebut kurang tepat karena
lebih banyak sentuhan terhadap qalbu (afektif), tanpa diimbangi sentuhan
terhadap sisi kognitif dan psikomotorik, sementara metode pembelajaran yang
banyak digunakan adalah hafalan dan mendikte, bukan analisis dan dialog.[9]
Materi dan metode demikian menumbuhkan pemahaman yang sempit terhadap ajaran
Islam yang berakibat pada pandangan hidup yang tidak seimbang. Padahal,
pendidikan Islam ditantang untuk menghasilkan manusia yang memiliki
keseimbangan pandangan hidup (seimbang akal-hati-jasad, seimbang
individu-sosial, seimbang dunia-akhirat), penguasaan terhadap berbagai ilmu
pengetahuan (agama, budaya, sosial, eksakta) dan pemilikan terhadap skill
atau kompetensi yang bermanfaat bagi kelestarian kehidupan.
C.
SOLUSI PROBLEMATIKA DAN TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Dalam
menghadapi Problematika serta tantangan
dunia pendidikan Islam baik internal maupun eksternal, diperlukan
langkah-langkah strategis pengembangan pendidikan Islam[10],
yaitu:
- Menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai wahana untuk membina ruh dan praktik hidup islami dalam mengantisipasi peradaban global. Dalam hal ini, lembaga pendidikan Islam harus menjadi pelopor dalam memahami Islam secara luas, bukan sekedar symbol dan ritual ibadah semata akan tetapi merupakan pandangan hidup yang dapat diterapkan pada semua aspek kehidupan, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, Iptek, maupun seni-budaya.
- Meningkatkan kualitas dan profesionalitas pendidik dan peranannya, baik sebagai ustadz, mu’allim, mursyid, mudarris, maupun mu’addib.
- Pengembangan kurikulum secara terpadu, dengan menjadikan ajaran dan nilai-nilai Islam sebagai petunjuk dan sumber konsultasi bagi pengembangan berbagai mata pelajaran dengan memasukkan ajaran dan nilai Islam dalam bidang studi umum untuk menghilangkan dikotomi keilmuan. Pengembangan kurikulum secara terpadu ini harus didukung melalui kerja sama antara pendidik bidang studi agama dengan pendidik bidang studi lain dalam menyusun desain pembelajaran terpadu yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Pengembangan kurikulum secara terpadu pun harus didukung dengan pemahaman mendalam pendidik akan keterkaitan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dengan mata pelajaran yang dibinanya. para pendidik dituntut untuk dapat menginternalisasikan nilai dan ajaran Islam dalam bidang studi, Bukannya sekedar menempelkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis Nabi dalam bidang studi tersebut.
- Meningkatkan kualitas lulusan pendidikan Islam secara holistik, dengan meningkatkan kualitas kesehatan lulusan dan pengembangan psikologisnya baik dari segi kecerdasan intelektual, emosional, kreativitas, maupun spiritual melalui kurikulum yang dirancang dan diarahkan untuk membantu, membimbing, melatih dan menciptakan suasana agar peserta didik dapat mengembangkan dan meningkatkan kualitas IQ, EQ, CQ, dan SQ.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Problematika
Pendidikan Islam Di Indonesia ada dua yakni Faktor
internal dan faktor eksternal; faktor internal meliputi Relasi
Kekuasaan dan Orientasi Pendidikan Islam; Masalah
Kurikulum; Pendekatan/metode pembelajaran; Profesionalitas dan Kualitas SDM; Biaya Pendidikan. Sedangkan
yang faktor eksternal meliputi Dichotomic (dikotomi), To General Knowledge,
Lack Of Spirit Of Inquiry (semangat), Memorisasi, Certificate Oriented
(ijazah).
2.
Berkaitan
dengan globalisasi, Indra Hasbi, dalam Pendidikan Islam Melawan Globalisasi,
menyebutkan empat dimensi tantangan yang dihadapi umat Islam dalam era
globalisasi yakni :
a)
Dimensi
ekonomi; perdagangan bebas pada hakikatnya merupakan wujud dari globalisasi
(liberalisme perdagangan) yang tidak dapat dipisahkan dengan kapitalisme dan
pasar bebas.
b)
Dimensi
politik; globalisasi mengarah pada penyeragaman pemahaman tentang demokrasi dan
hak asasi manusia (HAM).
c)
Dimensi
sosial-budaya; terbukanya arus informasi oleh teknologi informasi yang maju
pesat memberikan kesempatan pada setiap manusia (yang mampu mendapatkan
fasilitas teknologi informasi) untuk saling mengetahui kondisi sosial dan
budaya masing-masing.
d)
Dimensi Iptek;
globalisasi dalam bidang Iptek membawa manfaat sekaligus mudharat. Perkembangan
Iptek yang luar biasa cepat pada satu sisi memberi solusi atas permasalahan
hidup manusia.
3.
Dalam
menghadapi Problematika serta tantangan
dunia pendidikan Islam baik internal maupun eksternal, diperlukan
langkah-langkah strategis pengembangan pendidikan Islam, sebagai berikut:
a)
Menjadikan
lembaga pendidikan Islam sebagai wahana untuk membina ruh dan praktik hidup
islami dalam mengantisipasi peradaban global.
b)
Meningkatkan
kualitas dan profesionalitas pendidik dan peranannya, baik sebagai ustadz,
mu’allim, mursyid, mudarris, maupun mu’addib.
c)
Pengembangan kurikulum secara terpadu, dengan menjadikan
ajaran dan nilai-nilai Islam sebagai petunjuk dan sumber konsultasi bagi
pengembangan berbagai mata pelajaran dengan memasukkan ajaran dan nilai Islam
dalam bidang studi umum untuk menghilangkan dikotomi keilmuan.
d)
Meningkatkan
kualitas lulusan pendidikan Islam secara holistik, dengan meningkatkan kualitas
kesehatan lulusan dan pengembangan psikologisnya baik dari segi kecerdasan
intelektual, emosional, kreativitas, maupun spiritual.
B. Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami susun. Semoga dapat bermanfaat bagi
kita semua, akhir kata penulis menyadari bahwa makalah ini bukanlah proses
akhir, tetapi merupakan langkah awal yang masih banyak memerlukan perbaikan.
Karena itu kami sangat mengharapkan tanggapan, saran dan kritik yang membangun
demi sempurnanya makalah kami yang selanjutnya.
DAFTAR RUJUKAN
Hasbi, Indra, Pendidikan Islam Melawan
Globalisasi, Jakarta:
Ridamulia, 2005.
Ismail,dkk. Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2001.
Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta, Pustaka Al-Husni,1999.
Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan
Islam: mengurai benang kusut dunia pendidikan, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2006.
______, Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, cet ke-4, 2010.
Nata, Abuddin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, 2012.
Putra
Daulay, Haidar dan
Nurgaya Pasa, Pendidikan Islam Dalam Lintasan Sejarah, Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2013.
Razy Dalimunte, Fahrur, Kapita Selekta Pendidikan, Medan, IAIN Pres, 1999.
[3]Abuddin Nata, Kapita
Selekta Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2012, hlm. 2.
[4]Haidar Putra Daulay
dan Nurgaya Pasa, Pendidikan Islam Dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013, hlm. 195-196.
[6]Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam:
mengurai benang kusut dunia pendidikan, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2006, hlm. 71.
[10]Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi,Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, cet ke-4, 2010, hlm. 208-212.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar